Paper 1

                                                                Shift Paradigm
Pola pikir adalah kecenderungan manusiawi yang dinamis, ia dapat mempengaruhi siapa saja, ia dapat membantu kita, dapat pula merugikan kita, dan setiap manusia pasti memiliki pola pikir dan cara pandang yang berbeda-beda, karena pada setiap manusia dilengkapi dengan akal pikirannya masing-masing.

Dari permasalahan – permasalahan yang sering dihadapi manusia akan melahirkan suatu padangan tentang bagaimana cara atau solusi untuk menghadapi permasalahan – permasalahan tersebut, baik permasalahan yang dihadapi tentang suatu keinginan, ambisi serta cita – cita hingga konsep kehidupan yang dilaluinya. Pola pikir itu sendiri dapat timbul dengan sendirinya ketika manusia itu terbentur oleh suatu permasalahan hingga akhirnya ia akan terbentuk karakter oleh permasalahannya itu sendiri. Ketika kita mulai berpikir maka kita sendiri telah dihadapi oleh suatu masalah yang mungkin permasalahannya terlalu abstrak hingga sulit untuk diungkapkan dengan kata.

Ada orang dengan pola pikir perfeksionis. Kita menilai diri kita begitu tajam sehingga sekilas kita tidak berani mencoba sesuatu yang tidak kita kuasai dengan sangat sempurna. Ada orang dengan pola pikir obsesif, mengingat terus menerus sesuatu yang menakutkan kita sehingga kita menteror diri sendiri sampai rasa takut itu menjadi jauh lebih besar dari diri kita sendiri dan akhirnya kita berhenti sambil meyakini bahwa semuanya adalah malapetaka.

Ada juga orang dengan pola pikir pesimis. Kita meyakini bahwa kita telah dikutuk. Bagaimanapun kerasnya kita berusaha tapi yang datang selalu hal hal buruk. Kitapun tidak mampu melihat atau peduli akan keberhasilan kita karena kita memilih untuk hanya melihat pada kegagalan kita.

Ada orang dengan pola pikir bergantung pada orang lain. Kita sangat ingin untuk bebas tapi dilain pihak kita merasa bahwa hanya orang lain yang dapat menyelamatkan kita. Kita berpikir bahwa mereka mencintai kita karena mereka telah menyelamatkan kita. Kita merasa takut kehilangan hubungan baik yang telah lama dibina. Kita mendambakan kebebasan tapi kita sangat merasa tidak aman jika tidak bergantung pada mereka; takut mereka akan menelantarkan kita.

Ada orang dengan pola pikir “saling membutuhkan”. Kita memfokuskan diri untuk mencintai orang lain dan membuat orang yang dicintai menjadi bergantung pada kita dengan mencurahkan segala perhatian dan perasaan cinta kita kepadanya. Yang dicintai merasa orang lain tidak dapat mencintai-nya kecuali kita, Pada akhirnya orang yang kita cintai merasa tidak berdaya.

Ada orang dengan pola pikir membenci diri sendiri / suka melukai diri sendiri. Kita membuat diri kita sendiri menjadi seorang pesimis lalu melakukan hal yang sama pada orang lain. Tetap bertahan untuk tidak merubah diri bahkan mempengaruhi orang lain dengan cara menakut-nakuti bahwa akan ada sesuatu yang berbahaya apabila kita keluar dari pola pikir yang lama.

Ada orang dengan pola pikir birokrat/dogmatik, memaksakan kehendaknya untuk mengikuti aturan dan merasa kita yang paling tahu segalanya
Tapi kita juga dapat mempunyai pola pikir yang baik dan konstruktif. Kita dapat memiliki pola pikir yang optimistis. Kita percaya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Semua dapat dilakukan secara bertahap, biar lambat asal selamat maka kita akan berhasil melakukan sesuatu yang teramat sulit.

Dari beberapa contoh di atas, menurut saya setiap manusia memiliki pola pikir yang tidak sama, bahkan pola pikir itu akan timbul dari manusia itu sendiri, tergantung dari sikap perilakunya hingga cara pandangan mereka. Dengan adanya pola pikir serta cara pandang tersebut, tentu kepercayaan pribadi akan muncul dengan sendirinya. Ini dibuktikan dari beberapa faktor dominan yang dapat mempengaruhi pola pikir dan cara pandang mereka, diantaranya :
a. Cita – cita → merupakan awal dari suatu permasalahan yang akan dihadapi sehingga dapat membentuk karakter berpikir serta pola pikir dan pandangan hidup dari suatu permasalahan yang timbul.
b. Pengalaman → merupakan guru terbaik yang dimiliki oleh setiap orang. Belajar tidak hanya membaca atau mendengar dan menulis saja, belajar yang baik adalah memadukan ketiganya menjadi satu kesatuan yaitu melakukan dengan melakukan maka kita akan membaca karakter permasalahan
c. Pendidikikan → Pendidikan merupakan faktor penunjang dari suatu pola pikir cara pandang karena pada dasarnya pendidikan dapat merubah pola pikir dan cara berpikir seeorang. Tentunya akan sangat berbeda cara berpikir dan cara menyelesaikan suatu permasalahan seorang yang mengenyam pendidikan dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan.
d. Pergaulan → Karakter manusia dapat terbentuk oleh pergaulan baik pergaulan dalam akademis “sekolah, kampus atau lembaga lainnya”, ataupun non akademis “keluarga dan masyarakat”. Pergaulan juga dapat membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang.

Keempat faktor tersebut sangat dominan dalam mempengaruhi pola pikir dan cara pandang hidup manusia. Tanpa keempat faktor-faktor di atas, manusia tidaklah mungkin bisa membentuk pola pikir yang baik dan kepercayaan pribadi yang baik pula. Hal ini adalah permasalahan – permasalahan yang dihadapi baik dalam pencapaian suatu tujauan yang berkaitan dengan cita dan angan hingga masalah percintaan.

Dalam artikel kali ini akan dijelaskan bagaimana pola-pola pikir seseorang yang dapat mengubah sikap dan perilakunya di kehidupan sehari-hari. Tidak secara umum akan dijelaskan tentang pola pikir manusia, tetapi saya akan mengambil sampel yang cocok untuk dibahas dalam masalah ini, yaitu pola pikir seorang mahasiswa.

Ada anggapan yang kurang tepat bahwa pembelajaran di perguruan tinggi harus dilakukan di dalam kelas dan menyangkut kompetensi keilmuannya sehingga berbagai kegiatan ekstra kurikuler sering terabaikan. Bahkan ada banyak mahasiswa yang tidak mau berperan dalam kegiatan kemahasiswaan hanya karena takut akan mengganggu kegiatan akademiknya. Paradigma ini harus segera diubah jika tidak ingin mahasiswa terjebak dalam pola pikir parsial, karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Di Dunia kerja dan pengguna membutuhkan calon pemimpin yang tidak hanya kompeten dalam bidang ilmunya, tetapi juga mempunyai potensi diri yang memadai. Jika kompetensi keilmuan mahasiswa dapat tercapai dengan pembelajaran baik di kelas maupun laboratorium, maka pengembangan potensi diri dapat dikembangkan melalui latihan-latihan baik kegiatan akademik, kemahasiswaan, interaksi sosial maupun aktivitas mahasiswa lainnya.

Di dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswa tersebut juga merupakan ajang untuk mengasah potensi diri sehingga akan terbentuk mahasiswa dengan kemampuan bukan hanya dalam bidang keilmuannya saja tetapi juga mempunyai ketrampilan dan pengalaman dalam mengelola suatu sistem.

Dalam berorganisasi, setiap mahasiswa akan menjadi pemimpin sehingga ia pun harus mampu menunjukkan semangat dan jiwa kepemimpinannya untuk menjadi teladan bagi orang lain. Selain itu, dalam menjalankan organisasi mahasiswa akan melibatkan banyak orang, sehingga mahasiswa harus mampu mengelola orang lain, bahkan kadang harus menghadapi tekanan baik dari atasan, bawahan atau kolega yang lain.

Ada sebuah kutipan yang menggambarkan kenyataan di masyarakat saat ini. “Kadang ironis, seorang sarjana dengan prestasi akademik yang tinggi tetapi tidak segera dapat bekerja hanya karena tidak mempunyai soft skill yang memadai. Ternyata tuntutan dunia kerja sekarang sudah mengalami pergeseran”.

Pengguna tidak sekedar membutuhkan sarjana dengan prestasi akademik yang tinggi, tetapi lebih dari itu yang mampu mengembangkan potensi dirinya, bahkan pada banyak kasus pengguna lebih mengutamakan soft skill karena hard skill jauh lebih mudah ditingkatkan misalnya dengan pelatihan atau training, sedangkan soft skill merupakan sesuatu yang tidak instan tetapi harus dilatihkan secara berkelanjutan, dan lembaga mahasiswa merupakan salah satu tempat untuk mengasah potensi diri dan membentuk karakter seseorang.

Sebagai contoh, ketika seorang dosen bertanya kepada mahasiswa tentang apakah pola pikir mereka sudah terbentuk untuk menjadi seorang mahasiswa, mereka menjawab bahwa status yang mereka miliki adalah status mahasiswa, tetapi perilaku dan pola pikir mereka masih seperti seorang siswa. Dalam hal ini mereka dibimbing untuk mengubah pola pikir tersebut agar mereka menjadi mahasiswa, bukan hanya sekedar status saja.
Kemudian, apa yang menjadi perbedaan mendasar mahasiswa dengan “bukan mahasiswa” alias siswa biasa (SD, SMP, SMA)? Kalau menurut beberapa orang adalah mahasiswa bisa sekolah tanpa baju seragam dan bebas mengenakan apapun sedangkan 3 tingkat sekolah sebelumnya wajib mengenakan baju seragam. Begitu sajakah perbedaannya? Hanya dari tataran kemasan, jadi dapatkah disimpulkan isi dan pola pikir mahasiswa tak ada bedanya dengan anak SD, SMP, atau SMA dan hanya berbeda kemasan?

Bukankah sudah jelas dari kata ‘Maha’ saja membedakan mahasiswa ini dari segala aspek dibanding siswa biasa. Maha dalam pemikiran, maha dalam perbuatan, tetapi bagi si mahasiswa ini kenikmatan masa-masa SMA masih terbayang hingga terus dipertahankan sampai di bangku kuliah, maka engganlah dia belajar mengasah pola pikir kritis dan terus menerus berkutat dalam pola pikir SMA nya yang terbiasa pasif, dibimbing, dan suka main. Inilah sumber keresahan yang memunculkan pertanyaan: Mahasiswa, Dimana Mahamu?
Berikut adalah ciri-ciri yang seharusnya dimiliki oleh seorang mahasiswa, yaitu :
a) Melihat masalah sebagai tantangan
b) Menikmati hidupnya
c) Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
d) Menghilangkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas dalam benak
e) Mensyukuri yang di miliki
f) Tidak mendengarkan gossip yang tak menentu
g) Tidak bikin ALASAN tapi langsung bikin TINDAKAN
h) Peduli pada citra diri

Jelaslah bahwa mahasiswa masih berpikir seperti seorang siswa, belum berpikir secara rasionalis. Namun, dengan mengikuti beberapa tahap-tahap di atas, mungkin pola pikir dari seorang mahasiswa akan timbul, tergantung pula dari sifat setiap mahasiswa tersebut.

Seseorang akan dapat mengubah dunia ini jika ia mampu mengubah dirinya sendiri. Karena itu, untuk dapat menciptakan budaya yang sehat dan positif di dalam lingkungan sekitar kita, maka diri kita juga dituntut untuk bersikap lebih positif. Jadi setiap perubahan mestinya dimulai dari dalam diri kita sendiri, dan yang pertama kali harus diubah adalah pola berpikir kita. Sikap dan pola berpikir sangat erat kaitannya.

Dr. William James, Father of America psychology, mengatakan : “We can alter our lives by altering our altitudes – Manusia dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah sikap dan cara berpikirnya.” Orang yang terbiasa berpikir positif selalu menemukan solusi-solusi cerdas. Sebab pikiran yang positif dapat bekerja secara sederhana, mencari ide dan segala kemungkinan untuk berhasil.

Contohnya tentang sebuah kisah antara seorang ayah dan anak :
Suatu hari sang ayah sengaja membawa pekerjaan kantor ke rumah supaya semua tugas pekerjaan dapat segera dituntaskan. Tetapi sesampainya di rumah, anaknya merengek terus mengajaknya bermain. Sang ayah keberatan memenuhi permintaan anaknya, maka dicarilah akal supaya anaknya diam dan ia mempunyai kesempatan untuk menyelesaikan pekaerjaannya.

Pada saat itu, ia melihat sebuah majalah yang memuat peta dunia. Muncullah ide untuk menggunting peta dunia tersebut menjadi beberapa bagian. Setelah itu, sang ayah memberikan potongan-potongan peta dunia itu kepada anaknya seraya berkata, “Nak, kalau kamu sudah selesai menyatukan potongan-potongan kertas ini, maka ayah akan menemanimu bermain.” Sang ayah berpikir bahwa pekerjaan menyatukan potongan peta dunia itu akan sulit sekali dan memakan waktu sekurang-kurangnya 30 menit. Sehingga ia dapat leluasa menggunakan jeda waktu tersebut untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Tetapi tidak lama kemudian, sekitar 5 menit, sang anak sudah kembali kepada ayahnya sambil memberikan potongan-potongan peta dunia yang telah disatukan. Sang ayah tercengang, “Hah, mana mungkin anak sekecil ini sudah tahu dimana letak America, Afrika. Dan Eropa, Aneh sekali?” Karena potongan peta itu benar-benar terletak pas pada posisi yang seharusnya.
Maka dengan penuh keheranan sang ayah bertanya kepada anaknya : “Bagaimana kamu bisa melakukannya ?” Keheranan sang ayah terjawab, tatkala anak itu berkata, “Tidak sulit, Ayah, menggabungkan potongan-potongan kertas itu. Karena dibalik gambar peta itu ada gambar kepala manusia. Jadi saya benarkan saja kepala manusianya, maka benarlah gambar dunia ini.”

Anak kecil itu sanggup menyelesaikan soal yang sulit sebab ia berpikir secara sederhana saja. Tidak ada prasangka, keinginan untuk dipuji, kebencian dan pikiran negatif lain yang mempengaruhi anak tersebut. Ternyata begitu mudah menemukan solusi cerdas yang mempermudah kehidupan kita dengan berpikir positif. Jadi apa salahnya kita menerima setiap kenyataan apa adanya, dan memandang sisi positif untuk menemukan solusi cerdas berikutnya. Tanyakan pula, apa ruginya berpikir positif, dan apa untungnya selalu berpikir negatif?

Itu hanyalah contoh kecil bagaimana pola pikir yang sedehana bisa dikembangkan lewat kecerdasan seseorang. Ada erat kaitannya dari contoh di atas dengan apa yang terjadi pada diri mahasiswa modern saat ini bahwa sejatinya bangku kuliah di universitas akan membekali para mahasiswa dengan bekal dan persiapan ilmu yang akan mengasah pola pikir mereka menjadi kritis dan cerdas, mencetak manusia-manusia “maha” yang tak mau diam saja ketika melihat sebuah ketidak-beresan sistem dan mempertanyakan kebenaran, baik dalam segala aspek, ekonomi, sosial, politik, budaya apapun.
Mahasiswa bertanggung jawab pula sebagai calon intelektual dan calon cendekiawan dalam mengawasi sistem pemerintahan.

Sekedar pengingat adanya Soe Hok Gie sebagai ikon mahasiswa dapat dijadikan panutan dimana status mahasiswanya dimanfaatkan benar-benar untuk menghembuskan angin perubahan, melontarkan mosi tidak percaya pada sistem yang dianggap rusak. Lantas idealisme Gie memaksanya mati ketimbang terdiam dalam hidup keterasingan. Demi melihat kondisi mahasiswa kini, mungkin Gie tengah menangis dalam kuburnya saat tahu generasi penerusnya kehilangan kritisisme-nya.

Mahasiswa kini ibarat sebuah mesin, mahasiswa jaman sekarang adalah mesin intelektual yang dicetak perguruan tinggi untuk diluluskan kemudian melemparkannya ketengah masyarakat untuk membombardir masyarakat luas dengan berbagai retorika, wacana, yang kesemuanya menggunakan bahasa mesin intelektual tadi. Akibatnya masyarakat awam tak paham penjelasan bahasa mesin intelektual tadi dan hanya bisa diam.
Sementara para mahasiswa mesin yang bekerja menerangkan ilmu namun dengan bahasa mesin intelektual tadi tetap digaji, perguruan tinggi tempatnya bernaung dulu mendapat prestise tertinggi sebagai kampus pencetak orang pintar. Dan pak Warno penduduk desa petani hanya terbengong-bengong kala puluhan mahasiswa KKN dari jurusan fisioterapi sebuah perguruan tinggi swasta Surakarta menerangkan faedah fisioterapi namun dengan bahasa renyah implementasi, paradigma, trauma, ambigu, sambil bertanya-tanya kira-kira apa artinya.

Dan macam mesin yang juga digunakan dalam industri, pabrik-pabrik, atau dalam mobil. Kesemuanya adalah sama saja, tanpa hasrat. Hanya berjalan berdasarkan mekanisme pasti tanpa adanya intuisi berdiri sendiri. Analogi mesin ini untuk menunjukkan mahasiswa kini memang layaknya mesin yang diatur berbagai mekanisme dalam hidupnya. Mulai dari mekanisme pendidikan kampus yang parsial dan tidak memberikan esensi ilmu secara benar, mekanisme patriarki dan hirarki dari orang tua yang memaksa anaknya kuliah di jurusan tertentu sesuai keinginan orang tua demi kebanggaan semu saat bilang pada rekannya bahwa anaknya kuliah di universitas unggulan.

Hingga mekanisme pasar yang menjadikan mahasiswa terjebak dalam labirin konsumerisme hingga tak mampu keluar. Dengan berbagai mekanisme pengaturan hidup seperti itu sangat sulit kiranya bagi mahasiswa masa kini untuk mengembalikan sisi kritis mereka. Mahasiswa kini memiliki pola pikir impotensi dan ejakulasi dini yang sukar disembuhkan secara menyeluruh, justru mahasiswa era modern tengah sibuk menghayati perannya sebagai penikmat janji modernisasi. Meminjam istilah Rene Descartes “Aku berpikir maka Aku ada.” Yang dibuat satire “Aku berbelanja, maka Aku ada.” Dan mahasiswa kini meng-iya-kan yang kedua, mahasiswa digiring dalam gemerlapnya konsumerisme oleh mekanisme pasar.

Menurut analisis saya, seharusnya mahasiswa memiliki jiwa kritis yang dicontohkan oleh almarhum Gie. Seandainya itu tidak ditanamkan dalam diri mahasiswa, maka yang terjadi mahasiswa akan terus menjadi seorang konsumerisme, bukan seorang yang menciptakan sesuatu untuk berkarya dan dikenang oleh masayarakat.

Itu tadi, pola pikir dalam keseharian seorang mahasiswa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menempuh kehidupan masa depan, hal ini terbukti ketika masa reformasi di mulai, anggapan masyarakat luas tentang mahasiswa kala itu merupakan paradigma yang terbangun atas hasil dari tindakan mereka. Ujung tombak suara ketidak-adilan banyak di suarakan oleh mahasiswa demi nilai luhur yang telah lama hilang setelah puluhan tahun lamanya bangsa Indonesia merdekakan diri dari penjajahan bangsa asing. “Reformasi Harga Mati!!”, slogan terakhir dari mereka untuk pemerintahan yang mereka anggap penuh akan Korupsi, Kolusi & Nepotisme, yang seakan-akan telah mendarah daging kepada para wakil-wakil rakyat di negeri ini.

Ironis sekali jika kita bandingkan dengan pola pikir mahasiswa saat ini, ciri-ciri mahasiswa yang kritis, analis, objektif, dan investigatif mulai pudar digerus oleh jaman, mulai berganti menjadi mahasiswa yang praktis, pragmatis dan opportunnis, seakan-akan menjadi “boneka” penonton yang siap dimainkan pemiliknya kapan pun dibutuhkan, bukan lagi menjadi “kesatria demokrasi” atas ketidak adilan yang diterima oleh rakyat. Lalu dimana faktor kesalahannya?, apa solusi yang seharusnya kita tawarkan?, bagaimana jika kita ingin memulai untuk memperbaikinya?. Saat ini kita membutuhkan “paradigma” seorang “mahasiswa” yang “berani” untuk tampil kedepan memberikan solusi dan mengambil tindakan yang dianggap perlu sesuai peran serta fungsi dari statusnya.

Perombakan pemerintahan belum menjadi obat penyembuh bagi penyakit korupsi yang selama ini menggerogoti tubuh ibu pertiwi, karena ketika dalam proses penyembuhan pun para dokter belum melihat sumber penyakit ini secara seksama. Inilah salah satu tugas yang diturunkan oleh generasi tua pada generasi muda, inilah kunci untuk meraih kehidupan yang adil dan makmur bagi bangsa, inilah dinding tebal yang menyembunyikan cita-cita rakyat Indonesia selama ini. Namun, ironis sekali melihat degradasi moral yang di alami oleh Pemuda khususnya Mahasiswa saat ini, dan ini harus di perbaiki dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan, bukannya malah mencari cela bagaimana menunaikan wajib belajar sembilan tahun secara paksa.

Sejak di mulainya pembangunan karakter bangsa dengan cara di paksakan ataupun secara kolusi dan nepotisme, perlahan tapi pasti, pondasi rapuh yang terbangun akan dengan mudah roboh tatkala ia berdiri di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang sangat deras menerpa paradigma kebodohan tersebut. Ini tantangan bagi kita semua, kita telah melewati masa transisi demi tercapainya kemakmuran sejati, kemakmuran yang seharusnya di dapat karena bangsa kita telah merdeka. Tantangan bagi pemegang tongkat kekuasaan selanjutnya untuk memikirkan langkah-langkah konkrit mengenai kondisi bangsanya saat ini. Dan inilah tantangan sesungguhnya bagi Mahasiswa dan Paradigma-nya

Setiap saat kita dapat menentukan pilihan untuk merubah pola pikir apakah kita akan tetap dengan pola pikir yang positif atau pola pikir yang negatif. Pola pikir yang merusak diri ternyata dapat dirubah sehingga kita dapat bekerja dengan lebih baik, dapat menguatkan sesama, pemaaf, mandiri, dapat mengekspresikan diri dan punya cita-cita.
Berikut ini adalah contoh-contoh pola pikir negatif yang harus ditinggalkan jauh-jauh oleh mahasiswa, agar di masa yang akan datang tidak terjadi lagi sebuah kekeliruan paradigm, antara lain :
1. Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri
2. Cara berpikir totalitas dan dualisme
3. Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism
4. Labeling yaitu mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif
5. Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain

Jadi, menurut saya sangatlah penting bagi setiap manusia khususnya kepada generasi penerus bangsa untuk menumbuhkan dan mengembangkan pola pikir yang baik dan cara pandang yang luas agar mudah menempuh hidup kedepan. Tak lupa untuk menghindarkan pola pikir yang negatif. Sangatlah krusial jika pola pikir positif ditanamkan tetapi masih melakukan hal yang negatif, seakan-akan pemikiran tersebut sia-sia.

Perlu adanya perubahan dalam paradigma mahasiswa saat ini, di samping untuk mengubah pola pikir, juga berguna untuk pengalaman dan cita-cita yang akan diraih mahasiswa di hari kemudian nanti. Mereka akan masuk ke dalam dunia orang dewasa yang sangat jauh bedanya dengan pola pikir seorang siswa ataupun mahasiswa sekalipun.

Mengubah pola pikir yang sederhana ke yang lebih kompleks tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itu semua ada proses dan tahap-tahap yang harus dihadapi, kembali lagi kepada individu masing-masing. Orang yang ingin mengubah pola pikirnya pasti akan selalu berpikir kedepan dan bisa mengendalikan hidupnya. Sedangkan untuk orang yang sulit mengubah pola pikirnya akan tertinggal jaman dan sulit berkembang di lingkup hidup masyarakat sekitar.

Sumber
i. Blog UMY
ii. Kompas
iii. Kutipan dari (FP-UMY) Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP
iv. Kutipan dari Dr. William James, Father of America psychology

Nama : Rio Ramski
Kelas : 1KB01
NPM : 26111252

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s