Studi Lapangan

Ketika masa SMA, mungkin studi lapangan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Bagaimana tidak, belajar sambil berwisata merupakan hal yang sangat diminati siswa-siswi SMA. Dari situ kita bisa melihat secara langsung kejadian dan seleksi alam, bukti-bukti sejarah peninggalan zaman kerajaan sampai zaman penjahahan dan fenomena lain yang dapat diambil sebagai pelajaran.

Itulah yang terjadi pada diri Saya ketika masih duduk di bangku SMA. Perjalanan yang melelahkan, ditinggal jauh orang tua, merupakan pengalaman dan tantangan berarti bagi Saya. Namun, semua itu dapat dilewati dengan mudah ketika melakukan perjalanan bersama teman-teman se-angkatan dan guru pembimbing yang ikut serta dalam studi lapangan tersebut.

Tanpa cerita panjang lebar, Saya akan menceritakan pengalaman yang Saya dan teman-teman alami ketika melakukan studi lapangan ke tiga kota besar di Indonesia. Yang pertama kali kami kunjungi adalah Balai Inseminasi Buatan di Lembang, Bandung.

Di tempat ini kami bisa melihat cara pemanfaatan susu, produksi semen beku ternak dan reproduksi sapi perah. Kemudian dijelaskan juga bagaimana cara pemakaian teknologi yang digunakan untuk peragaan tersebut. Setelah melihat-lihat dan mempelajarinya, kami dipersilakan untuk meminum susu langsung dari hasil perah. Rasanya tidak berbeda jauh dengan susu biasa, hanya saja susu perah ini memliki rasa yang hambar dan hangat.

Setelah kami berkutat dengan hewan, tidak jauh dari sana, kami beralih ke Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang Bandung.

Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) ini adalah tempat tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis tanaman sayuran, dengan melakukan pelaksanaan penelitian seperti genetika, pemuliaan, perbenihan dan pemanfaatan plasma nutfah tanaman sayuran. Kami juga diperlihatkan bagaimana mempraktekkannya dan menganalisa terhadap salah satu tanaman yang ada di Balitsa ini.

Sebelumnya, kami mempelajarinya melalui presentasi yang dilakukan oleh petugas Balitsa itu sendiri agar kami dapat memahami struktur dan cara untuk mengembangkan bibit-bibit plasma nutfah. Setelah 2 jam lamanya menetap di Balitsa, kini kami melanjutkan perjalanan dengan berkunjung ke salah satu tempat perbelanjaan terkenal di Bandung, yaitu Ciampelas.

Banyak dagangan-dagangan murah yang dijual di sana, juga berbagai jenis pakaian, makanan, keperluan rumah tangga dan lainnya. Di Ciampelas, kami diberi waktu singkat dikarenakan harus mendatangi satu tempat terakhir di Bandung.

Segeralah kami pergi ke Saung Mang Ujo, yaitu tempat pelestarian alat-alat musik tradisional. Tidak hanya alat musik, tarian tradisional pun turut ikut melengkapi. Di sana kami juga diizinkan untuk memainkan alat musik khas sunda, angklung.

 Selain wisatawan domestik, wisatawan mancanegara pun ikut andil dalam acara yang di gelar di Saung Mang Ujo ini. Larut malam pun tiba. Akhirnya kami bersiap untuk beristirahat di hotel Lembang untuk mempersiapkan keberangkatan ke Kamojang yang berada di kawasan Cilacap, Jawa Barat.

Keesokan harinya, dari hotel kami langsung bergegas ke PLTP Kamojang. Perjalanan kami tempuh sekitar 3 jam lamanya. Tibalah kami di Kamojang.

Sebelum kami masuk ke dalam PLTP Kamojang, bau belerang pun menyambut kedatangan kami. Maklum, kami mengunjungi salah satu tempat Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang ada di Indonesia. PLTP ini bekerja sama dengan perusahaan Indonesia Power sebagai pihak yang mengubah energi uap panas menjadi energi listrik yang dialirkan ke seluruh wilayah Jawa-Bali. Di sana kami juga diajak berkeliling melihat-lihat kawasan di sekitar PLTP Kamojang, tidak lupa juga mengabadikan momen yang tak terlupakan ini.

Setelah kami puas dalam kunjungan ke PLTP Kamojang, tempat wisata selanjutnya yaitu Candi Cangkuang.

Keberadaan candi ini berbeda dengan candi-candi yang biasa kita kunjungi se-misal Borodubur, Prambanan atau lainnya. Candi ini terletak di tengah danau dan sebelum ke sana kami harus mendayuh perahu yang sudah disediakan. Di sana terdapat beberapa candi, perumahan yang merupakan peninggalan zaman dahulu yang masih berdiri kokoh dan beberapa bukti-bukti sejarah lainnya.

Itulah studi lapangan yang kami tempuh. Pengalaman dan pembelajaran yang tidak bisa kami lupakan ini sangat berharga untuk mengingat masa SMA dan sebagai bukti untuk diceritakan kepada anak cucu kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s