Memilih: Amal atau Senang-senang

Berdasarkan pengalaman pribadi, inilah yang terjadi ketika saya genap berusia 18 tahun, tepatnya 29 Oktober 2011 lalu. Sore itu sepulang kuliah, saya berniat untuk sholat Ashar di masjid dekat kampus terlebih dahulu sebelum beranjak pulang ke rumah. Setelah selesai sholat, pun tak lupa untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Namun, tak lama kemudian, seorang Bapak menghampiri saya selepas berdoa.

“Assalamualaikum”, kata Bapak itu. “Walaikumsalam Pak”, balas saya. Setelah itu, dengan lancarnya beliau bercerita mengenai status saya sebagai mahasiswa. Tak pelak pun saya menyadari hal itu dan membuat saya semakin yakin terhadap apa yang sudah saya jalani. Kemudian, Bapak itu bercerita mengenai dirinya. Dengan polosnya, beliau bercerita, “Dulu itu saya seorang yang berada, bekerja sebagai karyawan, dan memiliki keluarga bahagia. Entah kenapa setelah saya dipecat oleh perusahaan, saya semakin hari semakin terpuruk yang akhirnya saya terdepak ke dalam golongan orang yang kurang mampu”.

“Semenjak saya dipecat, saya beralih profesi sebagai pedagang kaki lima”, lanjut Bapak itu. Namun, disela-sela cerita, beliau mengungkapkan sesuatu yang membuat diri saya ingin membantu masalah yang terjadi terhadap beliau. “Jika saya tidak mempunyai uang sebesar 35rb sampai maghrib ini, maka dagangan saya akan disita dan saya tidak akan berdagang lagi”, lanjut si Bapak sambil mengeluarkan air mata. Saya pun bertanya, “Di mana dagangan Bapak sekarang?”. “Dagangan saya ada di Manggarai”, jawab si Bapak itu.

Kemudian saya berpikir, seandainya saya membantu Bapak ini, beliau akan mendapatkan kembali dagangannya dan bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Namun, di sisi lain saya ingin memakai uang yang saya miliki yang kebetulan ada sekitar 30rb di dompet untuk keperluan pribadi saya. Itu menjadi suatu tekanan yang terjadi dalam diri saya ketika dalam keadaan yang bersimpangan itu.

Sembari saya berpikir, Bapak itu berkata, “Seandainya adik ini tidak bisa membantu, saya tidak akan marah dan saya akan berusaha untuk mencari uang itu sebelum matahari terbenam”. Ternyata hati saya tak tega meninggalkan Bapak ini dalam keadaan sulit dan mungkin karirnya sebagai pedagang kaki lima akan berakhir.  Saya pun mengajak Bapak itu keluar masjid.

Sambil berjalan keluar masjid, akhirnya saya berniat untuk membantu Bapak itu dan saya pun tak segan-segan mengeluarkan dompet, mengambil uang yang ada dan segera memberikannya. “Pak, ini saya ada sedikit rezeki untuk Bapak. Mohon ini digunakan sebaik mungkin agar Bapak bisa menyelamatkan dagangan Bapak dan mudah-mudahan ini bermanfaat untuk ke depannya. Maaf, hanya ini yang saya miliki dan saya ikhlas”, tutur saya.

“Ya Allah, Terima kasih banyak ya dik, semoga adik ini cepat lulus dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan agama di masa yang akan datang”, kata Bapak itu. “Iya Pak, sama-sama, Amin. Semoga Bapak bisa kembali mencari nafkah”, respon saya. Bapak itu segera berlari dari masjid dan menuju Manggarai untuk mendapatkan dagangannya kembali.

Hikmah yang dapat saya tarik dari pengalaman saya tersebut bahwa setiap kali kita berulang tahun dan mendapatkan rezeki, tidak selalu untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi kita bisa gunakan sebagai amal ibadah yang baik dan menyelamatkan orang lain yang lebih membutuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s